Berikut ini adalah sekilas tentang novel terbaru yang sedang saya garap. Sebenarnya sedang berada di titik jenuh (hihi alasan. Bilang aja lagi malas nulis -__-) untuk itu, saya merasa feel-nya kurang dapet. Tapi, saya akan tetap berusaha menyelesaikan tulisan ini sembari memikirkan bagaimana membuatnya menjadi sesuatu yang layak untuk dipublikasikan. Oke, kisah ini tentang seorang gadis bernama Lana yang memiliki obsesi sebagai penulis, ia menggunakan nama pena Vanila untuk menutupi identitasnya. Nah, yuk kita simak bagaimana Lana menemukan muse untuk setiap tulisannya hingga akhirnya ia suskses menjadi salah satu penulis yang karyanya best seller. Selamat membaca ^^
Like
a Fool
Matahari perlahan merangkak ke ufuk
barat saat angin sepoi menggoyangkan lilin putih yang menjadi pertanda akan
berakhirnya sebuah romansa yang selama ini susah payah untuk dipertahankan,
kebohongan mulai menodai kepercayaan yang diberikan. Langit yang awalnya
berwarna jingga perlahan berubah menjadi hitam pekat.
Tatapan Lana kosong menembus
partikel-partikel udara di depannya, sudah tiga puluh menit pemuda yang ada di
hadapannya itu mengoceh sendiri. Tapi Lana tetap terdiam tanpa memberi respon,
cenderung terlihat tanpa emosi menghadapi Dion, kekasihnya yang untuk kesekian
kalinya kedapatan selingkuh.
“Lan, kamu percaya aku ‘kan? Semua yang
dikatakan Egi itu bohong. Bohong!” ucap Dion berusaha meyakinkan.
Lana tetap diam. Sesekali ia terlihat
menyeka wajah putihnya yang dibasahi keringat yang mengucur pelan. Matanya kini
menatap Dion dengan tajam. Pemuda ini berulang kali melakukan kesalahan yang
sama, lalu dengan santainya ia meminta maaf seakan hal yang diperbuatnya adalah
hal kecil yang bisa diselesaikan hanya dengan kata ‘maaf’. Tapi entah mengapa
Lana selalu cuek dengan tingkah seseorang yang sudah hampir setahun menjadi
kekasihnya itu. Ada alasan kuat mengapa Lana mengiyakan ketika Dion memintanya
untuk menjadi pendamping hati. Waktu yang mereka lewati bersama, nyatanya tidak
menumbuhkan rasa cinta sedikit pun pada Lana, itu sebabnya ia tidak pernah
ambil pusing dengan tingkah Dion yang makin menjadi setiap harinya.
“Lan, sekali pun Egi itu temanmu sejak
kecil, kamu jangan langsung percaya dengan semua ucapannya. Bisa saja dia
memang mau menghancurkan hubungan kita,” kata Dion lagi.
Lana menatap Dion makin tajam. Bisa-bisanya
Dion mengatakan kalau Egi berbohong padahal Lana sendiri sudah mengetahui
tindak-tanduk Dion selama ini.
“Kita putus, Yon.” Lana akhirnya
bersuara.
Dion tersentak kaget akibat kalimat
pendek yang didengarnya barusan.
“Tapi, Lan … “
BUK.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Dion
yang membuatnya tersungkur ke lantai. Semua penghuni café kini memandangi mereka dengan tatapan tanya.
“Egi?”
Lana membulatkan mata tidak percaya
dengan keberadaan cowok yang baru saja memberi pukulan pada Dion. Dion pun demikian,
ia tidak menyangka kalau Egi mengikuti mereka sejak tadi.
“Jangan mengganggu Lana lagi,” ancam Egi
sambil mencengkram bahu Dion yang berusaha untuk berdiri. “Laki-laki bejat
sepertimu tidak layak menjadi kekasih Lana. Dasar brengsek!”
Sebuah pukulan kembali didaratkan Egi di
perut Dion. Setelah itu Egi menarik paksa lengan Lana untuk sesegera mungkin
meninggalkan tempat tersebut tanpa memberi kesempatan pada Lana untuk
mengucapkan sepatah kata pun. Lana yang biasanya tidak pernah menuruti
perkataan Egi, kali ini tidak melancarkan aksi protes ketika melihat wajah blasteran Indonesia- Inggris berambut perunggu itu mengepalkan tangan
kirinya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya,
Egi yang biasanya bawel kini lebih banyak diam. Rahangnya mengeras seakan masih
ada luapan emosi yang belum dilampiaskannya. Lana memilih diam, ia memberi
waktu pada Egi untuk menenangkan diri.
ùùùùù
Langit terlihat mendung, tidak ada
bintang yang bertebaran atau bulan yang selalu tampak terang. Angin pun seakan
enggan untuk berhembus, malam makin terasa sunyi padahal belum larut. Di balkon
kamarnya, Lana memandangi langit hitam yang kelam, bayangan wajah Dion tampak
seperti siluet di ujung langit sana. Kejadian tadi seakan kembali terputar
berurutan di dalam pikirannya. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan cukup lama
dengan pemuda brengsek itu? Tapi, memang tidak ada getaran apa pun ketika ia
mengetahui Dion bersama cewek lain. Cemburu? Tidak sama sekali.
“Hei … hentikanlah kegalauanmu itu.
Wajah galaumu menyakiti mataku.” Suara Egi terdengar dari balkon rumah di
depannya.
Lana mengarahkan pandangannya pada
sumber suara, di sana tampak Egi sedang memainkan gitarnya.
“Masuklah ke kamarmu! Dengan begitu
matamu tidak akan sakit,” balas Lana jutek.
Egi yang berada di balkon rumahnya malah
nyegir kuda, seperti kebiasaannya. Tampaknya Egi sudah kembali seperti semula,
meninggalkan wajah tegangnya tadi. Bola matanya yang berwarna tosca kembali cerah.
“Laki-laki brengsek seperti itu tidak
pantas kamu pikirkan,” Egi memulai ceramahnya. “Sampai sekarang aku tidak habis
pikir kenapa kamu mau menjadi kekasihnya. Kalau saja aku perempuan, aku pasti
sudah menolak sejak pertama kali dia pedekate
padaku. Cakep enggak, pinter juga enggak, bejat iya. Enggak ada
menarik-menariknya manusia seperti dia.”
Itu
karena aku menyukaimu, Bodoh. Aku ingin membuatmu cemburu. Dasar tidak peka! Lana berujar di dalam hati.
“Itu urusanku!” teriak Lana dari balkon
kamarnya. Ia mengibaskan rambut panjangnya.
“Ihhh Lana … jutek amat,” protes Egi
sambil memanyunkan mulutnya. “Jangan galak-galak, cepet tua lho!”
Lana tidak menggubris, ia memilih untuk
meninggalkan Egi yang tampaknya berniat memperpanjang ceramahnya dari balkon
sebelah.
“Lana … Lanaaa.” Teriakan Egi memecah
kesunyian malam.
ùùùùù
“Lagi-lagi
kamu! Apa perlu mulut Bapak berbusa sampai kamu taat pada peraturan sekolah,
hah?” Pak Lukman setengah teriak. “Sudah terlambat, pearching-nya juga enggak dilepas-lepas. Mau jadi apa kamu nanti?”
Egi tidak menyahut, kepalanya tertunduk.
Ia sama sekali tidak ambil pusing dengan ocehan Pak Lukman yang hampir tiap
hari didengarnya di tempat yang sama, gerbang sekolah. Tapi ocehan itu terpantul begitu saja di
telinganya tanpa pernah singgah di otaknya.
Beberapa siswa yang juga tertangkap
basah karena terlambat berdiri membentu saf
di sebelah Egi. Kebanyakan dari mereka tidak berani mengangkat wajah mengingat
bagaimana killer-nya wakasek
kesiswaan yang satu ini. Sebagian terlihat menahan tawa melihat bagaimana usaha
Egi menghindari ‘hujan’ yang berasal dari mulut Pak Lukman.
“Itu rambutmu juga. Kenapa warnanya jadi
perunggu begitu? Dicat, hah? Kamu niat sekolah nggak sih?” Pak Lukman
menyilangkan kedua lengan di depan dadanya.
Egi memberanikan diri mengangkat wajah
sejenak. “Ini warna asli rambut saya, Pak. Dari lahir sudah begini.”
Pak Lukman tidak langsung memberi
respon, tampaknya penjelasan Egi mengenai rambutnya bisa diterima oleh akal
sehat melihat wajah bule Egi yang terlihat serasi dengan rambut cepaknya yang
berwarna perunggu.
“Tapi Bapak tidak mau melihat pearching itu lagi melekat di
telingamu!”
Egi memegangi telinga kanannya yang
dihiasi dua tindikan kecil. Ia sama sekali tidak berniat melepas pearching-nya bahkan jika Pak Lukman
menyatakan perang terhadapnya.
“Mengerti apa yang Bapak katakan?” Pak
Lukman kembali muncrat dan sialnya, Egi terkena ‘hujan buatan’ itu. Egi
mengusap wajahnya dengan selembar tisu yang sudah ia siapkan di sakunya. Ia
buru-buru menundukkan wajah sebelum ia benar-benar kuyup karenanya.
Egi mengangguk pelan. “Iya, Pak.”
“Sekarang kamu ke gudang belakang dan
rapikan gudang itu sampai layak dipandang mata!” perintah Pak Lukman.
“Sendirian, Pak?” Egi membulatkan mata
tidak percaya.
“Tentu saja! Pelanggaranmu yang paling
banyak, masa’ Bapak menyamakan hukumanmu dengan yang lain,” tantang Pak Lukman
sambil menaikkan alisnya. “Sudah! Jangan banyak protes! Cepat laksanakan!”
Egi melangkah pelan menuju gudang
sekolah yang terletak di belakang setelah menerima kunci gudang dari penjaga
sekolah. Membayangkannya saja sudah cukup mengerikan. Gudang sekolah bukan
hanya kotor berdebu tapi juga menyeramkan.
Egi menghela napas berat saat pintu
terbuka dan menampakkan betapa berantakannya gudang tua ini. “Kapan selesainya
ini?”
“Jelas enggak selesai kalau kamu cuma
berkeluh kesah tanpa bekerja.”
“Lana? Ngapain di sini?” Egi jelas
terkejut mendapati sahabatnya yang muncul tiba-tiba di sebelahnya.
Lana tidak menjawab, ia memasuki gudang
tua tanpa berkata kemudian mulai memindahkan bangku-bangku rusak yang
berhamburan ke sisi gudang lainnya.
“Hei, Lana! Kamu ngapain sih?” cegah
Egi. Tangan kirinya menahan lengan Lana yang hendak mengangkut bangku lagi.
“Bantuin kamulah!”
Lana kembali berusaha mengangkat bangku
namun cengkraman tangan Egi makin keras di pergelangan tangannya. “Yang kena
hukuman itu aku. Jadi aku yang harus menyelesaikannya, bukan kamu. Lagian kamu
enggak masuk kelas apa?”
Lana meletakkan bangku yang sudah siap
diangkutnya. Ia meniupi poninya kemudian memandangi Egi sambil memicingkan
mata. “Kamu pikir aku bakalan biarin kamu ngelakuin pekerjaan berat ini
sendiri? Kamu itu baru sembuh dari tipus minggu lalu. Kalau kamunya kenapa-napa
di gudang ini terus enggak ada yang ngeliat, gimana?”
Egi tersenyum hangat. Cengkramannya
perlahan mengendur. “Kamu pikir aku tega ngebiarin seorang cewek
ngangkat-ngangkat bangku dan meja seberat ini? Udah, balik ke kelas sana!”
Lana menggeleng cepat. “Enggak mau.”
“Alana …”
“Kalau kamunya kenapa-na—”
“Enggak akan kenapa-napa,” potong Egi
sebelum Lana sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi, Gi …”
Egi menghembuskan napas kuat-kuat. Lana
yang dikenalnya memang keras kepala dan tidak mau nurut, bahkan jika mereka
harus terlibat dalam perdebatan seharian penuh.
“Oke … oke.” Egi mengangkat tangan
pertanda menyerah. “Kamu nemenin aku di sini tapi kamu cukup duduk di pojok
sana tanpa perlu ngangkat-ngangkat barang apa pun. Ingat! Cuma nemenin.”
“Egi …”
“Kalau kamunya masih nggak mau nurut,
kamu mending balik ke kelas aja. Mengerti?” ancam Egi.
Dengan berat hati, Lana menyetujui
kesepakatan yang dibuat Egi. Daripada disuruh balik ke kelas dan meninggalkan
Egi sendirian, duduk diam di gudang ini adalah pilihan yang lebih baik menurut
Lana. Setidaknya Lana bisa sedikit lebih tenang walau rasa khawatir kalau Egi
jatu sakit lagi masih mendominasi hatinya.
Di sisi gudang lainnya, Egi tampak sibuk
mengangkat puluhan kursi dan meja rusak kemudian menyusunnya agar terlihat rapi
sesuai apa yang diperintahkan oleh Pak Lukman. Sesekali ia bersin akibat debu
yang beeterbangan di sekitarnya. Ia tidak ingin terlihat lelah walau peluh
sudah bercucuran di wajahnya, ia tidak ingin melihat sahabatnya larut dalam
kekhawatiran akibat dirinya.
Gi,
aku benar-benar takut kalau sampai terjadi apa-apa padamu.
ùùùùù
Sekolah mulai sunyi ketika Lana masih
harus berkutat dengan tumpukan berkas-berkas tebal yang ada di hadapannya.
Jabatannya sebagai sekretaris OSIS mengharuskannya sesegera mungkin
menyelesaikan tugas-tugas yang dimandatkan padanya. Pada periode lalu, Lana
adalah satu dari lima siswa kelas X yang terpilih menjadi anggota OSIS, dan
yang lebih spektakulernya lagi, Lana diberi kepercayaan untuk menjabat salah
satu jabatan penting pada organisasi sekolah tersebut, sekretaris OSIS. Tentu
saja hal tersebut adalah hal yang luar biasa mengingat usia Lana yang masih
sangat muda.
Lana termasuk siswa kebanggaan di SMA
Catania, nilai-nilainya selama ini nyaris sempurna dan ia seringkali mewakili
SMA Catania dalam Speech Competition.
Kecerdasan Lana tidak diragukan sampai detik ini. Kemampuannya mengundang decak
kagum dari berbagai pihak.
“Tidakkah hal ini membosankan buatmu?”
Sebuah suara yang muncul tiba-tiba dari
balik punggungnya tidak membuat Lana bergeser dari duduknya sedikit pun. Ia
tahu kalau pemilik suara berat itu adalah tetangganya yang sejak tadi malam
berusaha untuk menceramahinya, Egi Veanyard.
“Ck! Kau ini suka pura-pura tidak dengar
kalau aku bicara,” protes Egi saat sadar kalau ucapannya tadi tidak direspon
sama sekali.
“Enyah kau dari sini!” bentak Lana
sambil tetap mencoba berkonsentrasi untuk menyortir kertas-kertas di mejanya.
“Galak sekali kau ini. Pantas saja tidak
ada yang mau menjadi kekasihmu.” Egi bukannya pergi malah memperbaiki posisi
duduknya di hadapan Lana. “Ayolah, Lan. Kita pulang, yuk! Aku malas jalan
sendiri,” rengek Egi layaknya bayi.
“Pulang saja sendiri.”
Egi menghela napas panjang, hampir putus
asa rasanya menghadapi gadis jutek bin cuek yang duduk di hadapannya. “Lan, aku
boleh numpang makan siang di rumahmu, ya?” tanya Egi, masih dalam usaha
memancing respon Lana.
“Enggak.”
“Kau mau kalau aku mati kelaparan? Ck!
Jahat sekali tetanggaku ini,” ucap Egi.
Lana akhirnya mengangkat wajah. Bola
matanya yang berwarna biru sapphire menatap
Egi tajam. “Ck! Cerewet sekali tetanggaku ini,” balas Lana kemudian ia kembali
larut dalam pekerjaannya.
Egi tersenyum puas melihat misinya untuk
mencuri perhatian Lana telah berhasil. Egi kembali melancarkan aksi untuk
mencuri lebih banyak perhatian dari gadis berambut hitam panjang bermata indah
yang tampak sibuk di depannya.
“Hari ini aku traktir es krim vanilla
kalau aku boleh makan siang di rumahmu,” bujuk Egi lagi.
Tawaran Egi nyatanya cukup menarik
perhatian Lana yang kini mengangkat wajahnya. “Kamu ini! Mukanya seram gitu,
hobinya balapan, tapi sukanya rasa vanilla. Nggak keren.”
Egi lagi-lagi mengembangkan senyum yang
membuat mata bulatnya menyipit. “Biarin,” ucapnya sambil menjulurkan lidah.
Selanjutnya Egi lebih banyak mengoceh
sendiri, tidak peduli apa Lana memberi respon atau tidak, ia terus mengoceh.
Lana hanya membiarkan ocehan tetangganya itu memantul di telinganya sambil
terus berkutat dengan kertas-kertas di hadapannya.
“Kamu di sini, Gi? Aku cariin dari tadi
lho.”
Lea muncul di depan pintu dengan pipi
yang dikembungkan. Egi lagi-lagi mengembangkan senyum innocent yang menjadi andalannya sebelum menghampiri gadis manis
berkulit sawo matang yang sedang memainkan rambut panjangnya yang bergelombang
di pintu sana.
“Sori, Le. Tadi aku lupa ngabarin kamu.
Maaf, ya, honey.” Nada suara Egi
berubah lembut seketika. Tangannya yang tampak kekar membelai kepala Lea pelan.
Lana berpura-pura sibuk dengan
kertas-kertasnya walau kenyataannya semua indranya saat ini berada dalam
keadaan waspada tingkat tinggi untuk menangkap semua gerak-gerik sampai
pembicaraan sepasang kekasih yang kini tengah bermesraan beberapa meter dari
tempat duduknya.
Lana menghela napas berat sambil
mengusap dadanya, ia bisa merasakan bagaimana detak jantungnya mendadak berubah
liar. Tatapannya nanar pada kertas di hadapannya. Rasanya ia berada dalam
dimensi yang berbeda, dimensi di mana ia hanya bisa memandang iri tanpa bisa
berkata apa-apa.
“Hai, Lan. Lagi sibuk apa?”
Mendengar namanya disebut oleh Lea, Lana
buru-buru menormalkan ekspresi wajahnya setelah sebelumnya ia tampak bergundah
gulana. “Masih sama seperti sebelumnya, Le. Ngurusin kertas,” jawab Lana sambil
bercanda.
“Pulang yuk, Lan,” rengek Egi lagi. “Aku
mau makan siang, nih. Aku kelaparan tauk.”
“Kamu pulang bareng Lea aja. Aku masih
ada sedikit kerjaan. Ntar aku hubungin Bi Nah supaya kasih kamu makanan kalau
ke rumah.”
Egi menepuk jidatnya yang disusul oleh
tawa Lea yang berdiri di sebelahnya. “Yaelah, Lan. Aku berasa jadi anak panti
asuhan. Pengin numpang makan siang sih, tapi … enggak gitu-gitu juga kali,
Lan.”
“Terus?” Lana memasang wajah bingung.
Egi menghampiri Lana dan menarik hidungnya.
“Dasar nggak peka! Masa iya aku ke rumahmu untuk minta makan trus kamunya nggak
ada? Kesannya gimanaaa gituuu…”
Kamu
tuh yang nggak peka. Mesra-mesraan di dekatku. Aku cemburu tauk.
ùùùùù
New
Comer
Jam beker berbentuk hati yang bertengger
manis di meja baru menunjukkan pukul 06.15 saat Lana selesai mengenakan seragam
sekolahnya. Pagi-pagi sekali bahkan sebelum ayam jantan berkokok, Egi
berkali-kali menelepon hanya untuk membangunkannya. Hampir setiap Senin pagi
Egi melakukan hal tersebut, entah sejak kapan kebiasaan aneh itu dilakukannya.
Tapi lucunya, hampir setiap Senin pagi juga Egi terlambat ke sekolah. Mungkin
setelah membangunkan Lana, ia malah melanjutkan tidurnya.
“Egi … Egiii,” teriak Lana di depan
rumah megah bercat biru muda yang berhadapan dengan rumahnya.
Tidak ada jawaban. Bahkan jendela kamar
Egi yang terletak di lantai dua belum terbuka. Lana semakin yakin kalau Egi
melanjutkan tidurnya.
“Eeegggiii,” teriak Lana, berharap
pemuda itu segera terbangun dari tidur pulasnya. Lana berani mengeluarkan
teriakan ala tarzan di depan rumah Egi karena ia tahu kalau orangtua Egi tidak
berada di rumah. Seandainya orangtua Egi berada di rumah, Lana tentu saja tidak
berani melakukannya.
“Mas Egi masih tidur, Mbak,” jawab Bi
Sum. Bi Sum adalah perempuan paruh baya yang bekerja di rumah Egi bahkan
sebelum Egi lahir. Bi Sum sudah Egi anggap sebagai keluarganya sendiri, Bi Sum
juga lah yang menjadi pengasuh Egi saat kecil dulu.
“Pagi, Bi Sum,” sapa Lana dengan
senyuman ramah. “Pagi, Dafa.”
“Selamat pagi, Mbak Lana,” jawab Bi Sum
yang pagi itu tampak cerah dengan dasternya yang berwarna merah menyala.
Anehnya, di usianya yang sudah separuh abad, Bi Sum selalu suka menggunakan
warna-warna baju yang sangat cerah yang seakan mampu membutakan mata. Tapi terlepas
dari semua itu, Bi Sum adalah pribadi yang menyenangkan dan baik hati.
Lana berlari kecil memasuki pekarangan
rumah Egi ketika melihat bocah berumur tiga tahun yang berada dalam gendongan
Bi Sum tersenyum kepadanya. Dafa Veanyard, bocah lelaki berkulit putih yang
garis wajahnya sangat mirip dengan Egi saat kecil dulu, bedanya Dafa terlihat
lebih bule dari kakaknya. Ia juga memiliki mata berwarna tosca seperti Egi. Siapa pun yang melihat Dafa pasti akan sepakat
kalau Dafa itu tampan, apalagi saat dewasa nanti.
Lana selalu sukses dibuat gemas sendiri
ketika melihat Dafa, rasanya selalu ingin mencubiti pipi chubby-nya yang memiliki semburat merah muda.
“Dafa, udah calapan, beyum?” tanya Lana
dengan pilihan kata yang ia buat se-unyu
mungkin, ia tiba-tiba lupa pada umurnya ketika berhadapan dengan Dafa.
Dafa tidak menjawab, ia mempererat
pelukannya pada Bi Sum dan mengacuhkan Lana yang sudah bersusah payah
menyapanya. Satu lagi perbedaan dari kakak beradik ini, kalau Egi cenderung
bawel dan memiliki tingkat ke-PeDe-an di atas rata-rata, Dafa malah sebaliknya,
ia lebih pemalu dan irit bicara.
Dua
bersaudara ini doyan banget bikin aku patah hati. Kemaren-kemaren kakaknya, eh
sekarang dicuekin adiknya.
Lana yang putus asa karena Dafa yang
tidak menggubrisnya memilih meninggalkan pekarangan Egi yang masih tampak
sunyi. Veanyard bersaudara sukses membuatnya patah hati berkali-kali dengan
cara mereka yang berbeda-beda.
“Alana … mau ikut Mami nggak?”
Teriakan barusan berhasil mengembalikan
Lana dari alam khayalnya.
“Mau ikut nggak? Mami nggak mau telat
lho.”
“Ikuttt, Mi.” Lana bergegas mempercepat
langkah ke arah maminya yang sudah masuk ke dalam mobil.
ùùùùù
Suasana masih sepi saat Lana
menginjakkan kaki di sekolah, hanya ada beberapa manusia berseragam sama
dengannya yang masih bisa dihitung jari. Karena hari ini hari Senin, Lana tidak
langsung menuju kelasnya, sudah menjadi kewajiban baginya untuk mengecek kesiapan
upacara di ruang OSIS mengingat jabatannya sebagai salah satu anggota inti
dalam kepengurusan tersebut.
Di ruang OSIS yang terletak di pojok
gedung sudah terisi oleh beberapa anggota dari bidang perlengkapan. Sebagian
besar dari mereka adalah siswa kelas XII yang sebentar lagi akan mengakhiri
masa jabatannya.
“Lan, aku bertugas di mana hari ini?”
tanya Rini.
“Tunggu, Kak, aku lihat dulu.” Lana
buru-buru mengeluarkan buku besar dari ranselnya. Buku besar berwarna merah tua
itu adalah buku yang berisi hal-hal penting mengenai OSIS dalam masa jabatannya
sebagai sekretaris umum, termasuk pembagian tugas minggu ini.
“Kak Rini bertugas mengawasi upacara di
sebelah utara bareng Kak Devi. Tolong beri tahu Kak Rian, kalau dia bertugas di
lantai dua bareng Kak Indi. Untuk yang petugas lainnya sudah kuberi tahu
kemarin.”
Salah satu tugas anggota OSIS adalah
mengawasi para peserta upacara dari segala arah agar upacara dapat berjalan
khidmat tanpa ada keributan yang ditimbulkan oleh peserta upacara. Siapa saja
yang kedapatan melakukan hal-hal yang dianggap mengganggu kelangsungan upacara,
akan dicatat nama dan kelasnya kemudian diserahkan ke guru BK untuk ditindak
lanjuti.
Setelah bel berbunyi pada pukul 07.00,
semua warga SMA Cattaleya berbaris rapi di lapangan, termasuk para petugas
upacara dan anggota OSIS lainnya. Kali ini, Lana bertugas mengawasi di bagian
belakang barisan.
Upacara berjalan sebagaimana yang
diharapkan sampai seorang siswa yang masih menenteng tasnya terlihat
kebingungan mencari barisannya. Hampir semua peserta upacara memandangi siswa
tersebut dengan heran—terpesona lebih tepatnya, termasuk Lana.
Keberadaannya sempat membuat upacara
tampak kacau untuk beberapa saat. Beberapa orang, khususnya para siswi terlihat
berbisik-bisik sambil melihat siswa tersebut. Rasanya sudah bisa tertebak kalau
yang para siswi perbincangkan adalah keterposanaan mereka pada sosok itu. Ya,
harus diakui kalau siswa yang tampak bingung itu memiliki wajah yang good looking. Postur tubuhnya
proporsional, kulitnya cukup putih untuk ukuran laki-laki, hidungnya
tertanam indah di antara ke dua bola matanya yang berwarna caramel. Rambut cepaknya terlihat senada dengan bola matanya.
Sungguh, perpaduan yang sangat memanjakan mata, dan membuat orang-orang betah
untuk melihatnya lebih lama.
Suara kepala sekolah yang kian keras
membuat para pengamat dadakan itu kembali memusatkan perhatian pada
petuah-petuah yang diberikan oleh beliau. Tapi Lana masih penasaran dengan
sosok yang baru pertama kali dilihatnya itu, curi-curi pandang dari kejauhan
pun menjadi pilihan Lana saat ini.
“Mungkin anak baru.” Tepat di saat Lana
mengucapkan kalimatnya, tatapan Lana tertangkap oleh pemuda yang sejak tadi
diamatinya itu. Lana buru-buru menundukkan wajah, pipinya mendadak bersemu
jingga, ia berulang kali mengutuki dirinya yang sudah berani memandangi
seseorang dalam waktu yang sangat lama.
Upacara berakhir, dan warga Catania pun
bersiap memasuki kelasnya masing-masing. Lana mengecek gerbang sekolah terlebih
dahulu untuk mendata siswa-siswi yang terlambat sebagai salah satu tugasnya.
Lana menggelengkan kepala tidak percaya
ketika mendapati siswa yang terlambat hanya seorang saja, yaitu Egi, tetangga
rumahnya yang telah membangunkannya di pagi buta.
“Biarin aku masuk dong, Ndah,” pinta Egi
dengan wajah memelas pada Indah, teman kelasnya yang berjaga di gerbang
sekolah. Indah adalah salah satu anggota termuda di OSIS, sama seperti Lana.
“Enggak boleh, Gi. Aku bisa dimarahin
Pak Lukman kalau ketahuan.”
“Poinku tinggal setengah, Ndah. Kalau
aku kedapatan telat lagi, poinku bisa habis, dan akhirnya dikeluarkan dari
sekolah. Ayolah, Ndah. Tolong…”
Karena sekolah ini menggunakan sistem
poin, maka siapa pun yang melanggar peraturan akan dikurangi poinnya sesuai
dengan pelanggaran yang dilakukan. Jika poin sudah habis, maka siswa yang
bersangkutan akan dikeluarkan dari sekolah.
“Tapi …”
“Bukain aja gerbangnya, Ndah. Aku yang
tanggung jawab,” kata Lana yang muncul dari belakang. Egi yang tadinya sudah
pasrah mendadak berwajah cerah ketika mendengar suara Lana. Gerbang pun dibuka.
“Kamu memang my guardian angel, Lan,” ucap Egi sambil mencubiti pipi Lana tanpa
peduli pada Lana yang meringis kesakitan.
“Awas kalau minggu depan telat lagi.
Enggak ada ampun buatmu!” ancam Lana.
“I
promise you, Beib,” goda Egi, kemudian ia mengendap-endap agar tidak
kedapatan oleh Pak Lukman, wakasek kesiswaan. Ide jahil Lana lalu muncul, ia
melempari Egi yang tampak serius mendeteksi keberadaan Pak Lukman dengan botol
plastik bekas minuman. Sontak Egi terkejut sambil memegangi dadanya. Lana dan
Indah cekikikan di tempatnya.
Sebenarnya, hari ini bukan pertama
kalinya Lana menyelamatkan Egi. Hampir setiap minggu ia mengatakan hal yang
sama pada Egi “Awas kalau minggu depan telat lagi. Enggak ada ampun buatmu!”
tapi nyatanya ia tidak pernah benar-benar tega melihat Egi harus kehilangan
lebih banyak poin lagi. Egi bisa dikeluarkan.
ùùùùù
Lana menjadi orang terakhir yang
memasuki kelasnya karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya setelah
upacara tadi. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti di depan pintu kelas saat
mendapati pemandangan tidak biasa di bangku yang berada tepat di belakang
bangkunya. Waktu serasa bergerak lambat ketika ia sadar siapa yang menghuni
bangku yang berada tepat di bangku sebelah Egi— yang empunya bangku lenyap entah ke mana.
Lana menepuk jidatnya pelan sambil
meringis tertahan. Wajahnya kembali memerah setelah mengingat kejadian saat
upacara tadi. “Aduh, ternyata dia penghuni baru di kelasku. Gimana nih?”
rutuknya.
Seperti tidak terjadi apa-apa
sebelumnya, Lana memasuki kelasnya tanpa melirik sedikit pun ke pemuda yang
menjadi anak baru di kelasnya. Ia duduk di sebelah Riris dalam diam.
“Ris,” panggil Lana sambil mencolek
lengan teman sebangkunya yang terlihat asyik bergosip dengan Indah.
Riris menoleh setelah dicolek Lana
berkali-kali. “Apa?”
Lana mendekatkan wajahnya ke Riris,
membuat suaranya terdengar sekecil mungkin dan memastikan hanya Riris yang
mendengarnya.
“Itu siapa?” bisik Lana.
Riris mengerutkan kening, tidak mengerti
pertanyaan Lana barusan.
“Itu yang di belakang kita,” jelas Lana,
berharap otak Riris bisa lebih cepat memproses kalimat tanyanya.
“Anak baru, Lan,” jawab Riris sambil
balas berbisik.
Lana menggeleng pelan, cukup putus asa
dengan teman sebangkunya yang daya pikirnya lebih lambat dari cara jalan seekor
siput. “Maksudku, identitasnya. Namanya, asal sekolahnya, dan lain lain.”
“Dia belum memperkenalkan diri, Lan.
Tapi kata anak kelas sebelah, namanya Arzayn Hario, pindahan dari salah satu
sekolah ternama di Bandung. Aku nggak inget nama sekolahnya, Lan. Susah di
sebutnya, kebarat-baratan gitu deh.”
Lana mengangguk-angguk, ia tidak memaksa
Riris berpikir lebih lama. Ia tahu betul kalau Riris memang agak lemot kalau
sudah menyangkut bahasa asing. Membuat Riris berpikir lebih lama bisa membuat
otaknya berasap.
“Anak baru itu cakep kan, Lan?” tanya
Riris yang terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Lana mengangguk cepat, tak ingin
berdusta. “Iya. Cakep.”
Suasana mendadak sunyi senyap saat wali
kelas yang bernama Rida memasuki ruangan, Egi mengekor di belakangnya dan
buru-buru memasuki kelas sebelum bu Rida menyadari kalau salah satu murid di
kelasnya tidak berada di dalam kelas saat ia breafing di ruang guru tadi. Egi sempat terlihat bingung ketika
mendapati bangku di sebelahnya yang selama ini tidak berpenghuni telah terisi.
Tapi keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik, detik selanjutnya Egi
sudah berlagak sok ramah seakan mereka adalah kenalan lama.
“Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran
Matematika hari ini, ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan. Mungkin kalian sudah
tahu kalau di kelas kita kedatangan teman baru. Namanya Arzayn Hario dan kalian
bisa memanggilnya Zayn. Zayn pindahan dari Bandung.” Bu Rida mengeluarkan
spidol dari laci mejanya sebelum melanjutkan. “Untuk perkenalan selanjutnya
bisa kalian lakukan di jam istirahat.”
Selanjutnya pelajaran Matematika tentang
logaritma sukses membuat suasana kelas hening seketika. Logaritma memang
termasuk dalam kategori pelajaran yang cukup rumit dan bisa membuat otak jadi ngebul.
Bel istirahat yang dinantikan akhirnya
berbunyi nyaring menandai selesainya penderitaan otak akibat logaritma di pagi
ini. Seluruh penghuni kelas XI IPA I, khususnya para siswi yang sejak tadi
tidak bisa fokus pada pelajaran karena keberadaan homo sapiens dengan ketampanan di atas kadar normal di kelas mereka
bersiap menyerbu Zayn dengan berbagai pertanyaan. Tampaknya Zayn akan menjadi
calon kuat untuk menggeser posisi idola-idola sebelumnya di Catania.
“Alana, kamu diminta kepala sekolah ke
ruangannya,” perintah Bu Rida sebelum meninggalkan kelas.
“Untuk apa, Bu?” Lana yang sedang
membereskan peralatan belajarnya mengerutkan kening.
“Ibu tidak tahu. Sebaiknya kamu sendiri
yang memastikan apa kepentingan kepala sekolah ke kamu.”
ùùùùù
Lana melangkahkan kaki memasuki ruang
kepala sekolah yang sudah tidak asing baginya. Ruang kepala sekolah terlihat
mewah dengan hiasan berbagai macam lukisan di sisi-sisi ruang, LCD TV berukuran
cukup besar juga menempel di salah satu sisi, selebihnya ada sofa berwarna
hitam dan rak-rak buku yang terbuat dari kaca juga terisi beberapa piala di
sisi lainnya.
Lana berdiri mematung di tempatnya
ketika melihat wanita berhijab itu tampak sibuk di belakang mejanya. Di mejanya
terdapat papan nama yang terbuat dari kaca yang menunjukkan nama pemilik
ruangan ini, Dr. Zaskia Ali, S.pd, M.M.
“Oh, kamu sudah ada di sini,” kata
wanita yang saat ini mengenakan baju keki berwarna hijau muda yang senada
dengan hijabnya. Beliau tampak sangat berwibawa dan anggun di usianya yang
sudah kepala empat.
“Udah dari tadi. Mami manggil Lana ke
sini untuk apa?” protes Lana pada maminya yang menjabat sebagai kepala sekolah
di tempatnya menimba ilmu.
“Duduk dulu, Lan,” perintah mami
sekaligus kepala sekolahnya.
Lana menuruti perintah dan duduk di kursi
yang berada tepat di hadapan maminya. “Ada apa, Mi?”
Mami Lana menyodorkan dua kertas yang
berisi desain baju kepada anaknya. “Mulai tahun depan, seragam olahraga SMA
Catania akan diganti. Mami bingung harus pilih yang mana dari kedua desain ini.
Menurut Lana, Mami harus pilih yang mana?”
Lana menghempaskan tubuhnya ke sandaran
kursi sambil menyilangkan tangan di dadanya. Ia juga meniupi poninya
berkali-kali, tidak habis pikir mengapa sang mami memanggilnya hanya utuk hal
sesepele ini. “Jadi, Mami manggil Lana ke sini cuma untuk nanyain ini?”
“Mami kan demokratis. Jadi Mami mau
mendengar pandangan dari siswa juga. Apa ada yang salah?”
“Pilih desain yang di kanan aja, Mi,”
Lana memberikan saran tanpa memperhatikan desainnya. Di matanya kedua desain
itu terlihat hampir serupa, jadi tidak masalah desain mana saja yang
dipilihnya.
“Oke.”
Lana tiba-tiba teringat sesuatu yang
sejak tadi mengganjal pikirannya. Lana mendekatkan tubuh ke maminya sambil
memicingkan mata. “Mi, kok di kelas Lana ada anak baru? Bukannya di kelas
unggulan nggak boleh ada anak baru, Mi?” selidik Lana.
Perhatian mami Lana tetap tertuju pada
kertas di tangannya. “Oh, anak Pak Kapolda itu?”
Mata Lana yang sipit mendadak membulat
sempurna. Maminya memang selalu penuh dengan kejutan. “Kapolda? Kepala Polisi
Daerah maksud Mami?” Lana tidak sadar kalau volum suaranya memenuhi ruang
akibat keterkejutannya.
Mami Lana mengangguk dengan tatapan yang
tetap tertuju pada kertas di tangannya, sepertinya ia masih bimbang menetukan
pilihan.
Lana yang tidak terima dengan jawaban
maminya kembali melancarkan aksi protes. “Oh, jadi itu alasan Mami memasukkan
dia ke kelas Lana? Karena dia anak Pak Kapolda? Sejak kapan Mami membuang
ideologi yang Mami banggakan selama ini?”
Mami Lana meletakkan kertas yang sejak
tadi digenggamnya. Ia tersenyum sejenak. “Mami tidak pernah membuang ideologi
Mami. Mami memasukkannya ke kelas unggulan karena Mami menganggap dia kompeten
untuk berada di kelas unggulan. Mami sudah melihat daftar prestasinya yang
sangat menakjubkan dan dia juga sudah melewati tes yang sama seperti yang
kalian lewati saat penempatan di kelas unggulan di awal tahun ajaran lalu.”
“Benarkah?” tanya Lana tidak percaya.
Mami Lana lagi-lagi tersenyum hangat.
“Silakan Lana buktikan sendiri. Lana kan teman sekelasnya. Lana boleh protes ke
Mami lagi kalau ternyata keputusan Mami salah dan Mami akan dengan senang hati
memindahkannya ke kelas biasa, bahkan jika Arzayn anak presiden sekali pun,”
tantang sang mami penuh keyakinan.
ùùùùù

Tidak ada komentar:
Posting Komentar