Translate

Search

Kamis, 05 November 2015

ONLY YOU

Berikut ini adalah sekilas tentang novel terbaru yang sedang saya garap. Sebenarnya sedang berada di titik jenuh (hihi alasan. Bilang aja lagi malas nulis -__-) untuk itu, saya merasa feel-nya kurang dapet. Tapi, saya akan tetap berusaha menyelesaikan tulisan ini sembari memikirkan bagaimana membuatnya menjadi sesuatu yang layak untuk dipublikasikan. Oke, kisah ini tentang seorang gadis bernama Lana yang memiliki obsesi sebagai penulis, ia menggunakan nama pena Vanila untuk menutupi identitasnya. Nah, yuk kita simak bagaimana Lana menemukan muse untuk setiap tulisannya hingga akhirnya ia suskses menjadi salah satu penulis yang karyanya best seller. Selamat membaca ^^




Like a Fool

               
Matahari perlahan merangkak ke ufuk barat saat angin sepoi menggoyangkan lilin putih yang menjadi pertanda akan berakhirnya sebuah romansa yang selama ini susah payah untuk dipertahankan, kebohongan mulai menodai kepercayaan yang diberikan. Langit yang awalnya berwarna jingga perlahan berubah menjadi hitam pekat.
Tatapan Lana kosong menembus partikel-partikel udara di depannya, sudah tiga puluh menit pemuda yang ada di hadapannya itu mengoceh sendiri. Tapi Lana tetap terdiam tanpa memberi respon, cenderung terlihat tanpa emosi menghadapi Dion, kekasihnya yang untuk kesekian kalinya kedapatan selingkuh.
“Lan, kamu percaya aku ‘kan? Semua yang dikatakan Egi itu bohong. Bohong!” ucap Dion berusaha meyakinkan.
Lana tetap diam. Sesekali ia terlihat menyeka wajah putihnya yang dibasahi keringat yang mengucur pelan. Matanya kini menatap Dion dengan tajam. Pemuda ini berulang kali melakukan kesalahan yang sama, lalu dengan santainya ia meminta maaf seakan hal yang diperbuatnya adalah hal kecil yang bisa diselesaikan hanya dengan kata ‘maaf’. Tapi entah mengapa Lana selalu cuek dengan tingkah seseorang yang sudah hampir setahun menjadi kekasihnya itu. Ada alasan kuat mengapa Lana mengiyakan ketika Dion memintanya untuk menjadi pendamping hati. Waktu yang mereka lewati bersama, nyatanya tidak menumbuhkan rasa cinta sedikit pun pada Lana, itu sebabnya ia tidak pernah ambil pusing dengan tingkah Dion yang makin menjadi setiap harinya.
“Lan, sekali pun Egi itu temanmu sejak kecil, kamu jangan langsung percaya dengan semua ucapannya. Bisa saja dia memang mau menghancurkan hubungan kita,” kata Dion lagi.
Lana menatap Dion makin tajam. Bisa-bisanya Dion mengatakan kalau Egi berbohong padahal Lana sendiri sudah mengetahui tindak-tanduk Dion selama ini.
“Kita putus, Yon.” Lana akhirnya bersuara.
Dion tersentak kaget akibat kalimat pendek yang didengarnya barusan.
“Tapi, Lan … “
BUK.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Dion yang membuatnya tersungkur ke lantai. Semua penghuni café kini memandangi mereka dengan tatapan tanya.
“Egi?”
Lana membulatkan mata tidak percaya dengan keberadaan cowok yang baru saja memberi pukulan pada Dion. Dion pun demikian, ia tidak menyangka kalau Egi mengikuti mereka sejak tadi.
“Jangan mengganggu Lana lagi,” ancam Egi sambil mencengkram bahu Dion yang berusaha untuk berdiri. “Laki-laki bejat sepertimu tidak layak menjadi kekasih Lana. Dasar brengsek!”
Sebuah pukulan kembali didaratkan Egi di perut Dion. Setelah itu Egi menarik paksa lengan Lana untuk sesegera mungkin meninggalkan tempat tersebut tanpa memberi kesempatan pada Lana untuk mengucapkan sepatah kata pun. Lana yang biasanya tidak pernah menuruti perkataan Egi, kali ini tidak melancarkan aksi protes ketika melihat wajah blasteran Indonesia- Inggris  berambut perunggu itu mengepalkan tangan kirinya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Egi yang biasanya bawel kini lebih banyak diam. Rahangnya mengeras seakan masih ada luapan emosi yang belum dilampiaskannya. Lana memilih diam, ia memberi waktu pada Egi untuk menenangkan diri.
ùùùùù
Langit terlihat mendung, tidak ada bintang yang bertebaran atau bulan yang selalu tampak terang. Angin pun seakan enggan untuk berhembus, malam makin terasa sunyi padahal belum larut. Di balkon kamarnya, Lana memandangi langit hitam yang kelam, bayangan wajah Dion tampak seperti siluet di ujung langit sana. Kejadian tadi seakan kembali terputar berurutan di dalam pikirannya. Bagaimana mungkin ia bisa bertahan cukup lama dengan pemuda brengsek itu? Tapi, memang tidak ada getaran apa pun ketika ia mengetahui Dion bersama cewek lain. Cemburu? Tidak sama sekali.
“Hei … hentikanlah kegalauanmu itu. Wajah galaumu menyakiti mataku.” Suara Egi terdengar dari balkon rumah di depannya.
Lana mengarahkan pandangannya pada sumber suara, di sana tampak Egi sedang memainkan gitarnya.
“Masuklah ke kamarmu! Dengan begitu matamu tidak akan sakit,” balas Lana jutek.
Egi yang berada di balkon rumahnya malah nyegir kuda, seperti kebiasaannya. Tampaknya Egi sudah kembali seperti semula, meninggalkan wajah tegangnya tadi. Bola matanya yang berwarna tosca kembali cerah.
“Laki-laki brengsek seperti itu tidak pantas kamu pikirkan,” Egi memulai ceramahnya. “Sampai sekarang aku tidak habis pikir kenapa kamu mau menjadi kekasihnya. Kalau saja aku perempuan, aku pasti sudah menolak sejak pertama kali dia pedekate padaku. Cakep enggak, pinter juga enggak, bejat iya. Enggak ada menarik-menariknya manusia seperti dia.”
Itu karena aku menyukaimu, Bodoh. Aku ingin membuatmu cemburu. Dasar tidak peka! Lana berujar di dalam hati.
“Itu urusanku!” teriak Lana dari balkon kamarnya. Ia mengibaskan rambut panjangnya.
“Ihhh Lana … jutek amat,” protes Egi sambil memanyunkan mulutnya. “Jangan galak-galak, cepet tua lho!”
Lana tidak menggubris, ia memilih untuk meninggalkan Egi yang tampaknya berniat memperpanjang ceramahnya dari balkon sebelah.
“Lana … Lanaaa.” Teriakan Egi memecah kesunyian malam.
ùùùùù
                “Lagi-lagi kamu! Apa perlu mulut Bapak berbusa sampai kamu taat pada peraturan sekolah, hah?” Pak Lukman setengah teriak. “Sudah terlambat, pearching-nya juga enggak dilepas-lepas. Mau jadi apa kamu nanti?”
Egi tidak menyahut, kepalanya tertunduk. Ia sama sekali tidak ambil pusing dengan ocehan Pak Lukman yang hampir tiap hari didengarnya di tempat yang sama, gerbang sekolah. Tapi  ocehan itu terpantul begitu saja di telinganya tanpa pernah singgah di otaknya.
Beberapa siswa yang juga tertangkap basah karena terlambat berdiri membentu saf di sebelah Egi. Kebanyakan dari mereka tidak berani mengangkat wajah mengingat bagaimana killer-nya wakasek kesiswaan yang satu ini. Sebagian terlihat menahan tawa melihat bagaimana usaha Egi menghindari ‘hujan’ yang berasal dari mulut Pak Lukman.
“Itu rambutmu juga. Kenapa warnanya jadi perunggu begitu? Dicat, hah? Kamu niat sekolah nggak sih?” Pak Lukman menyilangkan kedua lengan di depan dadanya.
Egi memberanikan diri mengangkat wajah sejenak. “Ini warna asli rambut saya, Pak. Dari lahir sudah begini.”
Pak Lukman tidak langsung memberi respon, tampaknya penjelasan Egi mengenai rambutnya bisa diterima oleh akal sehat melihat wajah bule Egi yang terlihat serasi dengan rambut cepaknya yang berwarna perunggu.
“Tapi Bapak tidak mau melihat pearching itu lagi melekat di telingamu!”
Egi memegangi telinga kanannya yang dihiasi dua tindikan kecil. Ia sama sekali tidak berniat melepas pearching-nya bahkan jika Pak Lukman menyatakan perang terhadapnya.
“Mengerti apa yang Bapak katakan?” Pak Lukman kembali muncrat dan sialnya, Egi terkena ‘hujan buatan’ itu. Egi mengusap wajahnya dengan selembar tisu yang sudah ia siapkan di sakunya. Ia buru-buru menundukkan wajah sebelum ia benar-benar kuyup karenanya.
Egi mengangguk pelan. “Iya, Pak.”
“Sekarang kamu ke gudang belakang dan rapikan gudang itu sampai layak dipandang mata!” perintah Pak Lukman.
“Sendirian, Pak?” Egi membulatkan mata tidak percaya.
“Tentu saja! Pelanggaranmu yang paling banyak, masa’ Bapak menyamakan hukumanmu dengan yang lain,” tantang Pak Lukman sambil menaikkan alisnya. “Sudah! Jangan banyak protes! Cepat laksanakan!”
Egi melangkah pelan menuju gudang sekolah yang terletak di belakang setelah menerima kunci gudang dari penjaga sekolah. Membayangkannya saja sudah cukup mengerikan. Gudang sekolah bukan hanya kotor berdebu tapi juga menyeramkan.
Egi menghela napas berat saat pintu terbuka dan menampakkan betapa berantakannya gudang tua ini. “Kapan selesainya ini?”
“Jelas enggak selesai kalau kamu cuma berkeluh kesah tanpa bekerja.”
“Lana? Ngapain di sini?” Egi jelas terkejut mendapati sahabatnya yang muncul tiba-tiba di sebelahnya.
Lana tidak menjawab, ia memasuki gudang tua tanpa berkata kemudian mulai memindahkan bangku-bangku rusak yang berhamburan ke sisi gudang lainnya.
“Hei, Lana! Kamu ngapain sih?” cegah Egi. Tangan kirinya menahan lengan Lana yang hendak mengangkut bangku lagi.
“Bantuin kamulah!”
Lana kembali berusaha mengangkat bangku namun cengkraman tangan Egi makin keras di pergelangan tangannya. “Yang kena hukuman itu aku. Jadi aku yang harus menyelesaikannya, bukan kamu. Lagian kamu enggak masuk kelas apa?”
Lana meletakkan bangku yang sudah siap diangkutnya. Ia meniupi poninya kemudian memandangi Egi sambil memicingkan mata. “Kamu pikir aku bakalan biarin kamu ngelakuin pekerjaan berat ini sendiri? Kamu itu baru sembuh dari tipus minggu lalu. Kalau kamunya kenapa-napa di gudang ini terus enggak ada yang ngeliat, gimana?”
Egi tersenyum hangat. Cengkramannya perlahan mengendur. “Kamu pikir aku tega ngebiarin seorang cewek ngangkat-ngangkat bangku dan meja seberat ini? Udah, balik ke kelas sana!”
Lana menggeleng cepat. “Enggak mau.”
“Alana …”
“Kalau kamunya kenapa-na—”
“Enggak akan kenapa-napa,” potong Egi sebelum Lana sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Tapi, Gi …”
Egi menghembuskan napas kuat-kuat. Lana yang dikenalnya memang keras kepala dan tidak mau nurut, bahkan jika mereka harus terlibat dalam perdebatan seharian penuh.
“Oke … oke.” Egi mengangkat tangan pertanda menyerah. “Kamu nemenin aku di sini tapi kamu cukup duduk di pojok sana tanpa perlu ngangkat-ngangkat barang apa pun. Ingat! Cuma nemenin.”
“Egi …”
“Kalau kamunya masih nggak mau nurut, kamu mending balik ke kelas aja. Mengerti?” ancam Egi.
Dengan berat hati, Lana menyetujui kesepakatan yang dibuat Egi. Daripada disuruh balik ke kelas dan meninggalkan Egi sendirian, duduk diam di gudang ini adalah pilihan yang lebih baik menurut Lana. Setidaknya Lana bisa sedikit lebih tenang walau rasa khawatir kalau Egi jatu sakit lagi masih mendominasi hatinya.
Di sisi gudang lainnya, Egi tampak sibuk mengangkat puluhan kursi dan meja rusak kemudian menyusunnya agar terlihat rapi sesuai apa yang diperintahkan oleh Pak Lukman. Sesekali ia bersin akibat debu yang beeterbangan di sekitarnya. Ia tidak ingin terlihat lelah walau peluh sudah bercucuran di wajahnya, ia tidak ingin melihat sahabatnya larut dalam kekhawatiran akibat dirinya.
Gi, aku benar-benar takut kalau sampai terjadi apa-apa padamu.
ùùùùù

Sekolah mulai sunyi ketika Lana masih harus berkutat dengan tumpukan berkas-berkas tebal yang ada di hadapannya. Jabatannya sebagai sekretaris OSIS mengharuskannya sesegera mungkin menyelesaikan tugas-tugas yang dimandatkan padanya. Pada periode lalu, Lana adalah satu dari lima siswa kelas X yang terpilih menjadi anggota OSIS, dan yang lebih spektakulernya lagi, Lana diberi kepercayaan untuk menjabat salah satu jabatan penting pada organisasi sekolah tersebut, sekretaris OSIS. Tentu saja hal tersebut adalah hal yang luar biasa mengingat usia Lana yang masih sangat muda.
Lana termasuk siswa kebanggaan di SMA Catania, nilai-nilainya selama ini nyaris sempurna dan ia seringkali mewakili SMA Catania dalam Speech Competition. Kecerdasan Lana tidak diragukan sampai detik ini. Kemampuannya mengundang decak kagum dari berbagai pihak.
“Tidakkah hal ini membosankan buatmu?”
Sebuah suara yang muncul tiba-tiba dari balik punggungnya tidak membuat Lana bergeser dari duduknya sedikit pun. Ia tahu kalau pemilik suara berat itu adalah tetangganya yang sejak tadi malam berusaha untuk menceramahinya, Egi Veanyard.
“Ck! Kau ini suka pura-pura tidak dengar kalau aku bicara,” protes Egi saat sadar kalau ucapannya tadi tidak direspon sama sekali.
“Enyah kau dari sini!” bentak Lana sambil tetap mencoba berkonsentrasi untuk menyortir kertas-kertas di mejanya.
“Galak sekali kau ini. Pantas saja tidak ada yang mau menjadi kekasihmu.” Egi bukannya pergi malah memperbaiki posisi duduknya di hadapan Lana. “Ayolah, Lan. Kita pulang, yuk! Aku malas jalan sendiri,” rengek Egi layaknya bayi.
“Pulang saja sendiri.”
Egi menghela napas panjang, hampir putus asa rasanya menghadapi gadis jutek bin cuek yang duduk di hadapannya. “Lan, aku boleh numpang makan siang di rumahmu, ya?” tanya Egi, masih dalam usaha memancing respon Lana.
“Enggak.”
“Kau mau kalau aku mati kelaparan? Ck! Jahat sekali tetanggaku ini,” ucap Egi.
Lana akhirnya mengangkat wajah. Bola matanya yang berwarna biru sapphire menatap Egi tajam. “Ck! Cerewet sekali tetanggaku ini,” balas Lana kemudian ia kembali larut dalam pekerjaannya.
Egi tersenyum puas melihat misinya untuk mencuri perhatian Lana telah berhasil. Egi kembali melancarkan aksi untuk mencuri lebih banyak perhatian dari gadis berambut hitam panjang bermata indah yang tampak sibuk di depannya.
“Hari ini aku traktir es krim vanilla kalau aku boleh makan siang di rumahmu,” bujuk Egi lagi.
Tawaran Egi nyatanya cukup menarik perhatian Lana yang kini mengangkat wajahnya. “Kamu ini! Mukanya seram gitu, hobinya balapan, tapi sukanya rasa vanilla. Nggak keren.”
Egi lagi-lagi mengembangkan senyum yang membuat mata bulatnya menyipit. “Biarin,” ucapnya sambil menjulurkan lidah.
Selanjutnya Egi lebih banyak mengoceh sendiri, tidak peduli apa Lana memberi respon atau tidak, ia terus mengoceh. Lana hanya membiarkan ocehan tetangganya itu memantul di telinganya sambil terus berkutat dengan kertas-kertas di hadapannya.
“Kamu di sini, Gi? Aku cariin dari tadi lho.”
Lea muncul di depan pintu dengan pipi yang dikembungkan. Egi lagi-lagi mengembangkan senyum innocent yang menjadi andalannya sebelum menghampiri gadis manis berkulit sawo matang yang sedang memainkan rambut panjangnya yang bergelombang di pintu sana.
“Sori, Le. Tadi aku lupa ngabarin kamu. Maaf, ya, honey.” Nada suara Egi berubah lembut seketika. Tangannya yang tampak kekar membelai kepala Lea pelan.
Lana berpura-pura sibuk dengan kertas-kertasnya walau kenyataannya semua indranya saat ini berada dalam keadaan waspada tingkat tinggi untuk menangkap semua gerak-gerik sampai pembicaraan sepasang kekasih yang kini tengah bermesraan beberapa meter dari tempat duduknya.
Lana menghela napas berat sambil mengusap dadanya, ia bisa merasakan bagaimana detak jantungnya mendadak berubah liar. Tatapannya nanar pada kertas di hadapannya. Rasanya ia berada dalam dimensi yang berbeda, dimensi di mana ia hanya bisa memandang iri tanpa bisa berkata apa-apa.
“Hai, Lan. Lagi sibuk apa?”
Mendengar namanya disebut oleh Lea, Lana buru-buru menormalkan ekspresi wajahnya setelah sebelumnya ia tampak bergundah gulana. “Masih sama seperti sebelumnya, Le. Ngurusin kertas,” jawab Lana sambil bercanda.
“Pulang yuk, Lan,” rengek Egi lagi. “Aku mau makan siang, nih. Aku kelaparan tauk.”
“Kamu pulang bareng Lea aja. Aku masih ada sedikit kerjaan. Ntar aku hubungin Bi Nah supaya kasih kamu makanan kalau ke rumah.”
Egi menepuk jidatnya yang disusul oleh tawa Lea yang berdiri di sebelahnya. “Yaelah, Lan. Aku berasa jadi anak panti asuhan. Pengin numpang makan siang sih, tapi … enggak gitu-gitu juga kali, Lan.”
“Terus?” Lana memasang wajah bingung.
Egi menghampiri Lana dan menarik hidungnya. “Dasar nggak peka! Masa iya aku ke rumahmu untuk minta makan trus kamunya nggak ada? Kesannya gimanaaa gituuu…”
Kamu tuh yang nggak peka. Mesra-mesraan di dekatku. Aku cemburu tauk.
ùùùùù










New Comer


Jam beker berbentuk hati yang bertengger manis di meja baru menunjukkan pukul 06.15 saat Lana selesai mengenakan seragam sekolahnya. Pagi-pagi sekali bahkan sebelum ayam jantan berkokok, Egi berkali-kali menelepon hanya untuk membangunkannya. Hampir setiap Senin pagi Egi melakukan hal tersebut, entah sejak kapan kebiasaan aneh itu dilakukannya. Tapi lucunya, hampir setiap Senin pagi juga Egi terlambat ke sekolah. Mungkin setelah membangunkan Lana, ia malah melanjutkan tidurnya.
“Egi … Egiii,” teriak Lana di depan rumah megah bercat biru muda yang berhadapan dengan rumahnya.
Tidak ada jawaban. Bahkan jendela kamar Egi yang terletak di lantai dua belum terbuka. Lana semakin yakin kalau Egi melanjutkan tidurnya.
“Eeegggiii,” teriak Lana, berharap pemuda itu segera terbangun dari tidur pulasnya. Lana berani mengeluarkan teriakan ala tarzan di depan rumah Egi karena ia tahu kalau orangtua Egi tidak berada di rumah. Seandainya orangtua Egi berada di rumah, Lana tentu saja tidak berani melakukannya.
“Mas Egi masih tidur, Mbak,” jawab Bi Sum. Bi Sum adalah perempuan paruh baya yang bekerja di rumah Egi bahkan sebelum Egi lahir. Bi Sum sudah Egi anggap sebagai keluarganya sendiri, Bi Sum juga lah yang menjadi pengasuh Egi saat kecil dulu.
“Pagi, Bi Sum,” sapa Lana dengan senyuman ramah. “Pagi, Dafa.”
“Selamat pagi, Mbak Lana,” jawab Bi Sum yang pagi itu tampak cerah dengan dasternya yang berwarna merah menyala. Anehnya, di usianya yang sudah separuh abad, Bi Sum selalu suka menggunakan warna-warna baju yang sangat cerah yang seakan mampu membutakan mata. Tapi terlepas dari semua itu, Bi Sum adalah pribadi yang menyenangkan dan baik hati.
Lana berlari kecil memasuki pekarangan rumah Egi ketika melihat bocah berumur tiga tahun yang berada dalam gendongan Bi Sum tersenyum kepadanya. Dafa Veanyard, bocah lelaki berkulit putih yang garis wajahnya sangat mirip dengan Egi saat kecil dulu, bedanya Dafa terlihat lebih bule dari kakaknya. Ia juga memiliki mata berwarna tosca seperti Egi. Siapa pun yang melihat Dafa pasti akan sepakat kalau Dafa itu tampan, apalagi saat dewasa nanti.
Lana selalu sukses dibuat gemas sendiri ketika melihat Dafa, rasanya selalu ingin mencubiti pipi chubby-nya yang memiliki semburat merah muda.
“Dafa, udah calapan, beyum?” tanya Lana dengan pilihan kata yang ia buat se-unyu mungkin, ia tiba-tiba lupa pada umurnya ketika berhadapan dengan Dafa.
Dafa tidak menjawab, ia mempererat pelukannya pada Bi Sum dan mengacuhkan Lana yang sudah bersusah payah menyapanya. Satu lagi perbedaan dari kakak beradik ini, kalau Egi cenderung bawel dan memiliki tingkat ke-PeDe-an di atas rata-rata, Dafa malah sebaliknya, ia lebih pemalu dan irit bicara.
Dua bersaudara ini doyan banget bikin aku patah hati. Kemaren-kemaren kakaknya, eh sekarang dicuekin adiknya.
Lana yang putus asa karena Dafa yang tidak menggubrisnya memilih meninggalkan pekarangan Egi yang masih tampak sunyi. Veanyard bersaudara sukses membuatnya patah hati berkali-kali dengan cara mereka yang berbeda-beda.
“Alana … mau ikut Mami nggak?”
Teriakan barusan berhasil mengembalikan Lana dari alam khayalnya.
“Mau ikut nggak? Mami nggak mau telat lho.”
“Ikuttt, Mi.” Lana bergegas mempercepat langkah ke arah maminya yang sudah masuk ke dalam mobil.
ùùùùù

Suasana masih sepi saat Lana menginjakkan kaki di sekolah, hanya ada beberapa manusia berseragam sama dengannya yang masih bisa dihitung jari. Karena hari ini hari Senin, Lana tidak langsung menuju kelasnya, sudah menjadi kewajiban baginya untuk mengecek kesiapan upacara di ruang OSIS mengingat jabatannya sebagai salah satu anggota inti dalam kepengurusan tersebut.
Di ruang OSIS yang terletak di pojok gedung sudah terisi oleh beberapa anggota dari bidang perlengkapan. Sebagian besar dari mereka adalah siswa kelas XII yang sebentar lagi akan mengakhiri masa jabatannya.
“Lan, aku bertugas di mana hari ini?” tanya Rini.
“Tunggu, Kak, aku lihat dulu.” Lana buru-buru mengeluarkan buku besar dari ranselnya. Buku besar berwarna merah tua itu adalah buku yang berisi hal-hal penting mengenai OSIS dalam masa jabatannya sebagai sekretaris umum, termasuk pembagian tugas minggu ini.
“Kak Rini bertugas mengawasi upacara di sebelah utara bareng Kak Devi. Tolong beri tahu Kak Rian, kalau dia bertugas di lantai dua bareng Kak Indi. Untuk yang petugas lainnya sudah kuberi tahu kemarin.”
Salah satu tugas anggota OSIS adalah mengawasi para peserta upacara dari segala arah agar upacara dapat berjalan khidmat tanpa ada keributan yang ditimbulkan oleh peserta upacara. Siapa saja yang kedapatan melakukan hal-hal yang dianggap mengganggu kelangsungan upacara, akan dicatat nama dan kelasnya kemudian diserahkan ke guru BK untuk ditindak lanjuti.
Setelah bel berbunyi pada pukul 07.00, semua warga SMA Cattaleya berbaris rapi di lapangan, termasuk para petugas upacara dan anggota OSIS lainnya. Kali ini, Lana bertugas mengawasi di bagian belakang barisan.
Upacara berjalan sebagaimana yang diharapkan sampai seorang siswa yang masih menenteng tasnya terlihat kebingungan mencari barisannya. Hampir semua peserta upacara memandangi siswa tersebut dengan heran—terpesona lebih tepatnya, termasuk Lana.
Keberadaannya sempat membuat upacara tampak kacau untuk beberapa saat. Beberapa orang, khususnya para siswi terlihat berbisik-bisik sambil melihat siswa tersebut. Rasanya sudah bisa tertebak kalau yang para siswi perbincangkan adalah keterposanaan mereka pada sosok itu. Ya, harus diakui kalau siswa yang tampak bingung itu memiliki wajah yang good looking. Postur  tubuhnya  proporsional, kulitnya cukup putih untuk ukuran laki-laki, hidungnya tertanam indah di antara ke dua bola matanya yang berwarna caramel. Rambut cepaknya terlihat senada dengan bola matanya. Sungguh, perpaduan yang sangat memanjakan mata, dan membuat orang-orang betah untuk melihatnya lebih lama.
Suara kepala sekolah yang kian keras membuat para pengamat dadakan itu kembali memusatkan perhatian pada petuah-petuah yang diberikan oleh beliau. Tapi Lana masih penasaran dengan sosok yang baru pertama kali dilihatnya itu, curi-curi pandang dari kejauhan pun menjadi pilihan Lana saat ini.
“Mungkin anak baru.” Tepat di saat Lana mengucapkan kalimatnya, tatapan Lana tertangkap oleh pemuda yang sejak tadi diamatinya itu. Lana buru-buru menundukkan wajah, pipinya mendadak bersemu jingga, ia berulang kali mengutuki dirinya yang sudah berani memandangi seseorang dalam waktu yang sangat lama.
Upacara berakhir, dan warga Catania pun bersiap memasuki kelasnya masing-masing. Lana mengecek gerbang sekolah terlebih dahulu untuk mendata siswa-siswi yang terlambat sebagai salah satu tugasnya.
Lana menggelengkan kepala tidak percaya ketika mendapati siswa yang terlambat hanya seorang saja, yaitu Egi, tetangga rumahnya yang telah membangunkannya di pagi buta.
“Biarin aku masuk dong, Ndah,” pinta Egi dengan wajah memelas pada Indah, teman kelasnya yang berjaga di gerbang sekolah. Indah adalah salah satu anggota termuda di OSIS, sama seperti Lana.
“Enggak boleh, Gi. Aku bisa dimarahin Pak Lukman kalau ketahuan.”
“Poinku tinggal setengah, Ndah. Kalau aku kedapatan telat lagi, poinku bisa habis, dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Ayolah, Ndah. Tolong…”
Karena sekolah ini menggunakan sistem poin, maka siapa pun yang melanggar peraturan akan dikurangi poinnya sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Jika poin sudah habis, maka siswa yang bersangkutan akan dikeluarkan dari sekolah.
“Tapi …”
“Bukain aja gerbangnya, Ndah. Aku yang tanggung jawab,” kata Lana yang muncul dari belakang. Egi yang tadinya sudah pasrah mendadak berwajah cerah ketika mendengar suara Lana. Gerbang pun dibuka.
“Kamu memang my guardian angel, Lan,” ucap Egi sambil mencubiti pipi Lana tanpa peduli pada Lana yang meringis kesakitan.
“Awas kalau minggu depan telat lagi. Enggak ada ampun buatmu!” ancam Lana.
I promise you, Beib,” goda Egi, kemudian ia mengendap-endap agar tidak kedapatan oleh Pak Lukman, wakasek kesiswaan. Ide jahil Lana lalu muncul, ia melempari Egi yang tampak serius mendeteksi keberadaan Pak Lukman dengan botol plastik bekas minuman. Sontak Egi terkejut sambil memegangi dadanya. Lana dan Indah cekikikan di tempatnya.
Sebenarnya, hari ini bukan pertama kalinya Lana menyelamatkan Egi. Hampir setiap minggu ia mengatakan hal yang sama pada Egi “Awas kalau minggu depan telat lagi. Enggak ada ampun buatmu!” tapi nyatanya ia tidak pernah benar-benar tega melihat Egi harus kehilangan lebih banyak poin lagi. Egi bisa dikeluarkan.
ùùùùù
Lana menjadi orang terakhir yang memasuki kelasnya karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikannya setelah upacara tadi. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti di depan pintu kelas saat mendapati pemandangan tidak biasa di bangku yang berada tepat di belakang bangkunya. Waktu serasa bergerak lambat ketika ia sadar siapa yang menghuni bangku yang berada tepat di bangku sebelah Egi yang empunya bangku lenyap entah ke mana.
Lana menepuk jidatnya pelan sambil meringis tertahan. Wajahnya kembali memerah setelah mengingat kejadian saat upacara tadi. “Aduh, ternyata dia penghuni baru di kelasku. Gimana nih?” rutuknya.
Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya, Lana memasuki kelasnya tanpa melirik sedikit pun ke pemuda yang menjadi anak baru di kelasnya. Ia duduk di sebelah Riris dalam diam.
“Ris,” panggil Lana sambil mencolek lengan teman sebangkunya yang terlihat asyik bergosip dengan Indah.
Riris menoleh setelah dicolek Lana berkali-kali. “Apa?”
Lana mendekatkan wajahnya ke Riris, membuat suaranya terdengar sekecil mungkin dan memastikan hanya Riris yang mendengarnya.
“Itu siapa?” bisik Lana.
Riris mengerutkan kening, tidak mengerti pertanyaan Lana barusan.
“Itu yang di belakang kita,” jelas Lana, berharap otak Riris bisa lebih cepat memproses kalimat tanyanya.
“Anak baru, Lan,” jawab Riris sambil balas berbisik.
Lana menggeleng pelan, cukup putus asa dengan teman sebangkunya yang daya pikirnya lebih lambat dari cara jalan seekor siput. “Maksudku, identitasnya. Namanya, asal sekolahnya, dan lain lain.”
“Dia belum memperkenalkan diri, Lan. Tapi kata anak kelas sebelah, namanya Arzayn Hario, pindahan dari salah satu sekolah ternama di Bandung. Aku nggak inget nama sekolahnya, Lan. Susah di sebutnya, kebarat-baratan gitu deh.”
Lana mengangguk-angguk, ia tidak memaksa Riris berpikir lebih lama. Ia tahu betul kalau Riris memang agak lemot kalau sudah menyangkut bahasa asing. Membuat Riris berpikir lebih lama bisa membuat otaknya berasap.
“Anak baru itu cakep kan, Lan?” tanya Riris yang terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Lana mengangguk cepat, tak ingin berdusta. “Iya. Cakep.”
Suasana mendadak sunyi senyap saat wali kelas yang bernama Rida memasuki ruangan, Egi mengekor di belakangnya dan buru-buru memasuki kelas sebelum bu Rida menyadari kalau salah satu murid di kelasnya tidak berada di dalam kelas saat ia breafing di ruang guru tadi. Egi sempat terlihat bingung ketika mendapati bangku di sebelahnya yang selama ini tidak berpenghuni telah terisi. Tapi keterkejutan itu hanya bertahan beberapa detik, detik selanjutnya Egi sudah berlagak sok ramah seakan mereka adalah kenalan lama.
“Anak-anak, sebelum kita mulai pelajaran Matematika hari ini, ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan. Mungkin kalian sudah tahu kalau di kelas kita kedatangan teman baru. Namanya Arzayn Hario dan kalian bisa memanggilnya Zayn. Zayn pindahan dari Bandung.” Bu Rida mengeluarkan spidol dari laci mejanya sebelum melanjutkan. “Untuk perkenalan selanjutnya bisa kalian lakukan di jam istirahat.”
Selanjutnya pelajaran Matematika tentang logaritma sukses membuat suasana kelas hening seketika. Logaritma memang termasuk dalam kategori pelajaran yang cukup rumit dan bisa membuat otak jadi ngebul.
Bel istirahat yang dinantikan akhirnya berbunyi nyaring menandai selesainya penderitaan otak akibat logaritma di pagi ini. Seluruh penghuni kelas XI IPA I, khususnya para siswi yang sejak tadi tidak bisa fokus pada pelajaran karena keberadaan homo sapiens dengan ketampanan di atas kadar normal di kelas mereka bersiap menyerbu Zayn dengan berbagai pertanyaan. Tampaknya Zayn akan menjadi calon kuat untuk menggeser posisi idola-idola sebelumnya di Catania.
“Alana, kamu diminta kepala sekolah ke ruangannya,” perintah Bu Rida sebelum meninggalkan kelas.
“Untuk apa, Bu?” Lana yang sedang membereskan peralatan belajarnya mengerutkan kening.
“Ibu tidak tahu. Sebaiknya kamu sendiri yang memastikan apa kepentingan kepala sekolah ke kamu.”
ùùùùù
Lana melangkahkan kaki memasuki ruang kepala sekolah yang sudah tidak asing baginya. Ruang kepala sekolah terlihat mewah dengan hiasan berbagai macam lukisan di sisi-sisi ruang, LCD TV berukuran cukup besar juga menempel di salah satu sisi, selebihnya ada sofa berwarna hitam dan rak-rak buku yang terbuat dari kaca juga terisi beberapa piala di sisi lainnya.
Lana berdiri mematung di tempatnya ketika melihat wanita berhijab itu tampak sibuk di belakang mejanya. Di mejanya terdapat papan nama yang terbuat dari kaca yang menunjukkan nama pemilik ruangan ini, Dr. Zaskia Ali, S.pd, M.M.
“Oh, kamu sudah ada di sini,” kata wanita yang saat ini mengenakan baju keki berwarna hijau muda yang senada dengan hijabnya. Beliau tampak sangat berwibawa dan anggun di usianya yang sudah kepala empat.
“Udah dari tadi. Mami manggil Lana ke sini untuk apa?” protes Lana pada maminya yang menjabat sebagai kepala sekolah di tempatnya menimba ilmu.
“Duduk dulu, Lan,” perintah mami sekaligus kepala sekolahnya.
Lana menuruti perintah dan duduk di kursi yang berada tepat di hadapan maminya. “Ada apa, Mi?”
Mami Lana menyodorkan dua kertas yang berisi desain baju kepada anaknya. “Mulai tahun depan, seragam olahraga SMA Catania akan diganti. Mami bingung harus pilih yang mana dari kedua desain ini. Menurut Lana, Mami harus pilih yang mana?”
Lana menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menyilangkan tangan di dadanya. Ia juga meniupi poninya berkali-kali, tidak habis pikir mengapa sang mami memanggilnya hanya utuk hal sesepele ini. “Jadi, Mami manggil Lana ke sini cuma untuk nanyain ini?”
“Mami kan demokratis. Jadi Mami mau mendengar pandangan dari siswa juga. Apa ada yang salah?”
“Pilih desain yang di kanan aja, Mi,” Lana memberikan saran tanpa memperhatikan desainnya. Di matanya kedua desain itu terlihat hampir serupa, jadi tidak masalah desain mana saja yang dipilihnya.
“Oke.”
Lana tiba-tiba teringat sesuatu yang sejak tadi mengganjal pikirannya. Lana mendekatkan tubuh ke maminya sambil memicingkan mata. “Mi, kok di kelas Lana ada anak baru? Bukannya di kelas unggulan nggak boleh ada anak baru, Mi?” selidik Lana.
Perhatian mami Lana tetap tertuju pada kertas di tangannya. “Oh, anak Pak Kapolda itu?”
Mata Lana yang sipit mendadak membulat sempurna. Maminya memang selalu penuh dengan kejutan. “Kapolda? Kepala Polisi Daerah maksud Mami?” Lana tidak sadar kalau volum suaranya memenuhi ruang akibat keterkejutannya.
Mami Lana mengangguk dengan tatapan yang tetap tertuju pada kertas di tangannya, sepertinya ia masih bimbang menetukan pilihan.
Lana yang tidak terima dengan jawaban maminya kembali melancarkan aksi protes. “Oh, jadi itu alasan Mami memasukkan dia ke kelas Lana? Karena dia anak Pak Kapolda? Sejak kapan Mami membuang ideologi yang Mami banggakan selama ini?”
Mami Lana meletakkan kertas yang sejak tadi digenggamnya. Ia tersenyum sejenak. “Mami tidak pernah membuang ideologi Mami. Mami memasukkannya ke kelas unggulan karena Mami menganggap dia kompeten untuk berada di kelas unggulan. Mami sudah melihat daftar prestasinya yang sangat menakjubkan dan dia juga sudah melewati tes yang sama seperti yang kalian lewati saat penempatan di kelas unggulan di awal tahun ajaran lalu.”
“Benarkah?” tanya Lana tidak percaya.
Mami Lana lagi-lagi tersenyum hangat. “Silakan Lana buktikan sendiri. Lana kan teman sekelasnya. Lana boleh protes ke Mami lagi kalau ternyata keputusan Mami salah dan Mami akan dengan senang hati memindahkannya ke kelas biasa, bahkan jika Arzayn anak presiden sekali pun,” tantang sang mami penuh keyakinan.
ùùùùù








Tidak ada komentar:

Posting Komentar